08/22/2006
Kompilasi Kehidupan Antara Anak Dan Orang Tua
Kompilasi kehidupan antara anak dan orang tua disini menggambarkan bahwa Anak dan orangtua adalah dua pribadi yang berbeda. Pribadi berbeda generasi yang sebenarnya mempunyai tujuan dan keinginan yang sama. Dihormati dan menghormati. Dihargai dan menghargai. Disayangi dan menyayangi. Namun, jalan untuk memperoleh kebahagian utama ini kadang-kadang tidak berjalan mulus karena adanya perbedaan kepribadian, prinsip,cara pandang, tujuan, atau pemahaman terhadap masalah yang dihadapi. Anak dan orangtua mempunyai jalan dan cara tersendiri yang kadang-kadang sulit untuk dipahami dan dimengerti satu sama lain yang berujung pada sebuah konflik.
Hal ini juga yang saya alami saat memasuki usia remaja. Masa dimana saya membutuhkan pengakuan dari orang lain-termasuk orang tua-. Hati dan pikiran saya berkata “Saya siap menjadi mandiri! Saya siap untuk membuat keputusan!”. Saya ingin mendapat pengakuan bahwa saya bukan lagi seorang anak kecil yang dapat dilarang kesana kemari saya ingin membuktikan kalau saya mampu dan bisa menjaga diri saya sendiri. Ibu, tentu tidak sepenuhnya setuju akan sikap dan pernyataan saya. Sebuah kalimat yang biasanya membuat saya diam seribu bahasa, “Mama itu orang tua, pernah menjadi muda.Kamu remaja, belum pernah merasakan menjadi tua”. Menurut Ibu, tidak semua keputusan yang saya ambil adalah hal yang terbaik.Harus diakui bahwa Ibu telah banyak mencicipi asam garam kehidupan. Pendapat Ibu biasanya benar. Namun, ego saya tidak mau begitu saja berkompromi dengan Ibu. Saya tidak mau (terkesan) digurui.
Pernah satu hari saya berjalan-jalan kesebuah toko buku tiba-tiba mataku menangkap sebuah buku yang judulnya aku sudah lupa saat saya ambil dan kemudian membacanya ternyata isinya tentang kompilasi kehidupan antara orang tua dan anak.Adalah sebuah hal yang mustahil dalam sebuah ikatan anak dan orangtua tanpa dibumbui dengan konflik.Konflik yang tidak jarang merenggangkan ikatan antara orang tua dan anak yang seharusnya berjalan dengan rasa kasih dan sayang. membagi pengalaman mereka saat menjalani hari-hari sebagai seorang remaja beserta konflik yang dialaminya. Gaya bahasa sehari-hari yang ringan membuat buku ini enak untuk dinikmati.Ada empat bagian yang dipaparkan dalam buku ini. Pemilihan kata “bagian” terasa sangat pas sebagai ilustrasi benturan yang terjadi antara anak dan orangtua.
Padabagian pertama, diceritakan empat kisah yang terkait dengan hobi. Sarah, pada masa SMP-nya sangat menggandrungi olahraga basket. Basket menjadi prioritas pertamanya, mengalahkan tugas utama sebagai pelajar, yaitu belajar. Nilai-nilai rapornya turun drastis. Suatu hari, Sarah pulang malam karena mengikuti dua pertandingan basket sekaligus. Karena terlalu senang menghadapi pertandingan tersebut, Sarah lupa meminta izin orang tuanya. Setibanya di rumah,Ayah Sarah marah besar. Sebuah tamparan mendarat di pipi Sarah,saat itu sarah menjadi marah dan rasa ingin memberontak pada ayahnya.
Cerita yang tidak kalah menarik datang dari pengalaman Maya. Keinginan mahasiswi ini untuk memakai jilbab ditentang oleh orangtuanya. Maya tidak mengetahui alasan yang mendasari penolakan tersebut. Melalui berbagai pendekatan yang dilakukan, akhirnya Ibu Maya mau berterus terang bahwa beliau takut bahwa anak tercintanya memakai jilbab karena terpengaruh sebuah aliran yang menganggap orangtua sendiri adalah kafir sebelum turut bergabung dalam komunitas mereka.
Dunia serasa runtuh bagi Dinda ketika mengetahui bahwa Ayah yang selama ini dipuja dan menjadi sosok orangtua yang ideal menikah lagi secara diam-diam. Seketika bayangan sempurna tentang Ayahnya berganti menjadi rasa marah dan kebencian.Konflik antara anak dan Ayah ini diceritakan pada bagian ketiga.Mengharukan, sepotong maaf dan sebuah kesabaran ternyata dapat menjadi resep jitu untuk mencerahkan kembali hubungan yang sempat kaku. Saat aku membaca bagian ini aku merasa hidupku sama dengan kehidupan dinda karena kecewa dengan ayah yang tiba-tiba menikah lagi.Saat itu aku merasa tidak akan ada kata maaf lagi dari mulutku untuk ayah karena rasa benci yang sangat mendalam.
Bagian terakhir selalu berakhir dengan indah.Setidaknya itulah yang dirasakan KAka saat Nita, saudara sepupunya, menetap di rumahnya. Semua penghuni rumah memuji Nita karena rajin dan selalu bersikap manis serta sopan terhadap Ibu dan adik-adik Kaka.Wajar bila Kaka merasa cemburu.Kaka merasa kehadiran Nita telah memonopoli hak dan kewajibannya sebagai seorang anak dan kakak.Kehadiran Nita telah merenggut perhatian yang selama ini didapatkannya.Ibu Kaka tidak mengerti mengapa Kaka sangat membenci Nita.Suatu kejadian yang tidak terduga akhirnya membuat Ibu Kaka sadar bahwa selama ini beliau sempat mengabaikan perasaan anaknya selama ada Kaka.
Tidak hanya remaja, orangtua pun juga perlu membaca buku ini.Manfaat yang dapat dipetik dari buku ini adalah konflik dapat menjadi media untuk belajar menyatukan persepsi dan pemikiran antara anak maupun orangtua, sarana kedua belah pihak untuk belajar menempatkan diri pada posisi yang berlawanan, menerima pendapat dan mengakomodasikan kepentingan masing-masing. Buku ini menyuarakan pesan bahwa setiap konflik dapat diselesaikan dengan mengeyampingkan ego dan menimbulkan keinginan untuk mengatasinya. Buku ini juga dilengkapi dengan tips dan trik untuk mengatasi konflik yang disisipkan pada bagian akhir setiap bagian .
Mengedepankan akal dan hati jauh lebih penting daripada menggunakan kekerasan dan emosi sesaat.Alangkah indahnya jika setiap anak dan orangtua dapat mengerti satu sama lain sehingga anak tidak perlu lagi bertanya-tanya.
03:35 Posted in Books | Permalink | Comments (1) | Email this



Comments
Hi fara..hihihi..napa kita sama ya..
salam kenal juga ya..
Duh,aku jadi malu tulisanku dipajang..
*pipi merah mode on*
mo tukeran link?
Posted by: farahPutri | 08/22/2006
The comments are closed.